<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-8233332372138135345</id><updated>2012-02-16T02:14:46.692-08:00</updated><title type='text'>Akbar Hamdan</title><subtitle type='html'>Hidup Damai dalam Jagat Imajinasi</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8233332372138135345/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Akbar Hamdan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12217593549486232153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_VqicMMQnPiI/SUDxGRblFJI/AAAAAAAAAAM/IOvvP1cEboA/S220/akbar.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8233332372138135345.post-2568030131699917226</id><published>2009-03-09T21:53:00.001-07:00</published><updated>2009-03-09T21:53:45.478-07:00</updated><title type='text'>Asal Maulid</title><content type='html'>Salah satu kelebihan Mazhab Ahlulbait dibandingkan mazhab lainnya adalah kekayaan ritusnya. Tak usah tanya ritus Maulid Nabi saw yang kita peringati saat ini, hari-hari bersejarah yang dialami para turunan beliau yang menjadi imam, hingga hari wafatnya (kebanyakan syahid), pun turut diperingati oleh pengikut mazhab ini. Rasul saw, Imam Ali as, Fathimah as serta 11 imam (Alaihimus Salam), peristiwa-peristiwa yang dialami para manusia mulia ini diperingati sebagai bentuk kecintaan pengikut mazhab Ahlul Bait kepada mereka. Hampir setiap bulan (penanggalan hijriyah), ada saja ritus yang digelar untuk mengenang sosok, ajaran dan kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat penyelenggaraan ritus yang berdekat-dekatan dan berkesinambungan selama berabad-abad ini, generasi penganut Mazhab Ahlulbait di masa kini memiliki pengetahuan yang tidak berbeda dengan para pendahulu mereka mengenai sosok dan ajaran Muhammad saw dan para turunannya. Ritus yang digelar secara kontinyu ini berperan penting, agar mereka tetap selalu menjadikan Muhammad saw dan turunannya sebagai teladan sepanjang masa. Yang tak kalah penting, sejarah yang mereka terima --yang biasanya disajikan dalam ritus-ritus yang berkesinambungan itu-- tetap terpelihara keasliannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritus ini juga tidak digelar sendiri-sendiri, namun dalam sebuah majelis. Melibatkan banyak orang. Sehingga telah menjadi semacam perekat sosial antara penganut Mazhab Ahlulbait itu sendiri. Tentu banyak manfaat yang dirasakan dalam penyelenggaraan ritus yang dikemas dalam sebuah majelis untuk tujuan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita tengok fenomena ritus Islami di Indonesia. Lebih kecil lagi, Sulawesi Selatan. Atau di sudut yang runcing, Makassar. Ingat-ingat ada berapa ritus Islami yang kita peringati dalam setahun. Satu Muharram, Maulid Nabi saw, Isra Mikraj Nabi saw, Idul Fitri dan Idul Adha. Pada komunitas tarikat agak mendingan. Ada tambahan Asyura (10 Muharram), 15 Sya’ban, Malam Jumatan, plus haul dari para wali atau gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tak usah dimasukkan golongan-golongan yang menganggap peringatan-peringatan seperti Maulid itu bid’ah. Entah syiar Islami apa lagi yang tersisa bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal ritus. Dari ritus-ritus ini, barangkali hanya Idul Fitri dan Idul Adha yang bisa dirasakan ‘atmosfirnya’. Maulid? Tidak lebih dari sekedar bagi songkolo dan telur. Isra Mikraj dan 1 Muharram? Hanya pembacaan sejarah --yang masih diperdebatkan kebenarannya-- dan makan-makan kue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena begitu kurangnya ritus ini, generasi muda Islam banyak yang tak tahu mengenai ajaran agamanya sendiri. Karena ritus yang tak banyak ini, jaringan sosial antarsesama muslim juga tidak terlalu merekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan yang menyedihkan, kebanyakan peringatan ritus Islami digelar asal-asalan. Asal maulid, misalnya. Di masa kini, mana ada orang yang mau datang ke acara maulid jika tak ada songkolo dan telurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak heran, banyak umat Islam di kota ini yang hanya mengenal Muhammad saw sebagai seorang Nabi dan Rasul saja. Tapi tentang siapa Nabi Muhammad saw, siapa keluarganya, bagaimana kehidupannya, tak banyak diketahui mereka. Dan yang mungkin paling celaka, tak mau cari tahu mengenai beliau. Kalau sosok Nabi Muhammad saw tidak diketahuinya, bagaimana pula dengan ajaran-ajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena perannya sebagai perekat sosial, sehingga beberapa kesultanan hingga kini masih bertahan. Lihat di kesultanan di Yogyakarta yang tetap eksis. Acara Mauludan dan Asyura-nya, ada arak-arakan pengawal dan makanan-makanan massal. Di Buton yang juga masih eksis kesultanannya, acara Maulid sama besar dengan perayaan Idul Fitri. Malah tiga hari sebelum 12 Rabiul Awwal, masyarakatnya sudah berbenah-benah. Bikin masakan yang enak-enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang bilang, budaya barat telah 'mengalahkan' ritus-ritus Islami itu. Film, music, show, fashoin dan lain-lain membuat generasi muda lebih betah pergi ke mall, nonton di rumah, daripada menghadiri majelis Maulid Nabi saw di masjid-masjid. Alam pikiran mereka mereka telah disabotase agar lebih senang melafalkan nyanyian-nyanyian asing daripada shalawat. Amit-amit Tuhan. Saya memohon agar tidak masuk dalam golongan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah saya berpanjang lebar. Jika ingin mencari maulid Nabi saw yang asli dan bukan asal, maka cari lah Maulid yang digelar oleh para penganut Mazhab Ahlul Bait. Masih ada waktu kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf kalau tulisannya agak belepotan. Soalnya disusun dalam keadaan sesak nafas ringan. Hehehehe. Wassalam. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8233332372138135345-2568030131699917226?l=akbarhamdan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/feeds/2568030131699917226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/2009/03/asal-maulid.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8233332372138135345/posts/default/2568030131699917226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8233332372138135345/posts/default/2568030131699917226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/2009/03/asal-maulid.html' title='Asal Maulid'/><author><name>Akbar Hamdan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12217593549486232153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_VqicMMQnPiI/SUDxGRblFJI/AAAAAAAAAAM/IOvvP1cEboA/S220/akbar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8233332372138135345.post-1225027353180523247</id><published>2009-03-09T21:51:00.000-07:00</published><updated>2009-03-09T21:52:32.392-07:00</updated><title type='text'>Sahabat Rasul saw (juga) Bisa Salah</title><content type='html'>Sudah tak terperikan lagi bagaimana konflik antara Muslim Sunni dan Syiah memakan begitu banyak korban jiwa, baik di masa lampau mau pun hingga era komunikasi 3,5G ini. Di Timur Tengah, khususnya Irak, perang terbuka antara kelompok pejuang Sunni atau pun pejuang Syiah masih saja terjadi. Lantas, apa yang terjadi jika Muslim Indonesia bermazhab Sunni dan Syiah dipertemukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang terbuka dengan AK-47? Barangkali dan Insya Allah itu tidak akan terjadi. Namun perang urat syaraf, itu sudah pasti. Setidaknya, itulah yang bisa disimak dalam dialog terbatas Sunni-Syiah yang digelar di Aula gedung PPs (Program Pascasarjana) UIN Alauddin, Jl Sultan Alauddin, Jumat (6/2/2009). Begitu susahnya mempertemukan benang merah kedua ideologi terbesar dalam dunia Islam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog terbatas yang diprakarsai PPs UIN Alauddin ini mengangkat tema Titik Temu dan Letak Perbedaan Sunni-Syiah Tentang Sahabat. Penganut Syiah Indonesia diwakili IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia). Sementara Wahdah Islamiyah mewakili kelompok Sunni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk diketahui lebih dulu, penganut mazhab Syiah umumnya menolak sebagian sahabat yang hidup semasa Rasul saw untuk dijadikan teladan atau pun panutan dalam ajaran Islam. Mazhab Syiah meyakini bahwa tidak semua sahabat benar-benar setia dan patuh kepada Rasul saw. Sebaliknya, hanya sahabat yang setia dan patuh kepada Rasul saw yang bisa dijadikan rujukan ajaran Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain sisi, Mazhab Sunni, khususnya Wahdah Islamiyah meyakini semua sahabat Rasul saw yang jumlahnya lebih 100.000 orang sudah terjamin kebaikan dan kebajikannya. Mereka pun menganggap seluruh sahabat sangat layak dijadikan rujukan ajaran Islam, khususnya Khulafaur Raasyidin (empat khalifah utama), yakni Abu Bakar Ash Shiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, dan Ali bin Abi Thalib kwh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dialog ini, mewakili kelompok Syiah adalah Ketua Dewan Syuro IJABI, Prof Dr KH Jalaluddin Rakhmat M Sc, yang juga dikenal sebagai pakar komunikasi, politik, sosiologi dan tasawuf. Sedangkan Wahdah yang menganut paham Wahabi (1) ini mengutus Ketua DPC Wahdah Islamiyah Makassar, Ustad Rahmat Abdul Rahman LC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas meja panjang, dedengkot mazhab Syiah dan Wahdah ini duduk bersama. Diantaranya kursi keduanya duduk Prof Dr AGH Ahmad Sewang (Direktur PPs UIN Alauddin) dan Dr Muhammad Zain (peneliti sejarah para sahabat Nabi Saw). Sementara Hamdan Juhannis (Pemerhati Masalah Islam) menjadi moderatornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski digelar secara terbatas dan sederhana, namun kualitas acara ini tak perlu disangsikan lagi. Sebab acara ini dihadiri oleh sejumlah ulama dan cendekiawan. Moderator Hamdan menyebut Muhammadiyah, NU, MUI, ICMI, KPPSI bahkan aktivis Ahmadiyah ikut berpartisipasi. Malah, aula PPs UIN Alauddin yang ukurannya memang tidak luas itu akhirnya menjadi sesak oleh pengunjung. Sebagian terpaksa harus duduk melantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 15.00 Wita, acara yang sebenarnya dijadwalkan setelah Salat Jumat atau pukul 13.00 Wita, baru dimulai. Prof Dr KH Jalaluddin Rakhmat M Sc yang akrab disapa Kang Jalal diberi kesempatan selama 30 menit memaparkan makalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Jalal mengingatkan bahwa makalahnya mengutip penjelasan sejumlah tafsir Alquran serta hadist-hadist yang diakui Mazhab Syiah atau pun Sunni. Ayat-ayat tentang sahabat yang dikutip Kang Jalal antara lain Surah Al Fath ayat 18, dan surah Al Bayyinah ayat 8, surah Al Hujurat ayat 2 serta surah Al Jumuah (Jumat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Alquran dan fakta sejarah, Kang Jalal mengungkapkan bahwa beberapa sahabat ternyata ada yang patuh, dan juga tidak patuh terhadap perintah Nabi saw. Itu bisa dilihat dari Al Hujuraat ayat 2 yang isinya memperingatkan kepada sahabat tertentu supaya tidak lagi mengeraskan suaranya melebihi suara Nabi saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam surah Al Jumuah, juga diceritakan bagaimana sejumlah sahabat diperingati karena meninggalkan Nabi saw yang sedang khutbah Jumat. Para sahabat ini meninggalkan khutbah karena ingin menyaksikan kelompok pemusik yang lewat kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa fakta lain yang disebutkan dalam Alquran juga mengungkapkan adanya sahabat yang mencari-cari alasan supaya tidak ikut perang melawan kaum kafir, bahkan melarikan diri dari medan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Olehnya itu, tidak semua sahabat bisa disebut 'Adalah (berkeadilan). Hanya sebagian sahabat saja," kunci Kang Jalal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Jalal juga menyinggung tentang kisah Khalid bin Walid yang cerita heroiknya sudah melegenda di sebagian Muslim. Menurut catatan sejarah, Khalid bin Walid ternyata pernah membunuh seorang muslim bernama Malik bin Nuwairah lantaran terpikat kecantikan istri Malik, Laila binti Mihlal. Usai membunuh Malik bin Nuwairah, Khalid pun meniduri Laila malam itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan Khalid ini tak urung menyebabkan Umar bin Khattab ra dan Abu Bakar As Shiddiq ra yang menjadi khalifah saat itu, bertentang pendapat. Umar menginginkan agar Khalid dihukum mati karena membunuh seorang muslim dan berzinah. Namun Abu Bakar membelanya karena menganggap Khalid hanya salah dalam berijtihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan Kang Jalal ini sempat membuat gaduh suasana dialog. Menandakan beberapa peserta terkejut mendengar sisi kelam orang yang dicap sahabat Nabi saw ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika memang semua sahabat Nabi saw itu 'Adalah dan bisa dijadikan landasan sunnah, maka pasti bukan suatu dosa membunuh muslim karena kita suka istrinya, lalu memperistrikannya sebelum masa Iddah (kesucian) selesai," tutur Kang Jalal merujuk kisah Khalid bin Walid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang diduga, kelompok Wahdah Islamiyah menolak pemaparan Kang Jalal. Ustad Rahmat pun menuduh Syiah sedari dulu selalu menghujat para sahabat Nabi saw, utamanya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Padahal dalam Alquran, kata Rahmat, Allah swt jelas-jelas sudah menjamin para sahabat Rasul ini. Utamanya yang ikut dalam Baiat Ridwhan --seperti yang disebutkan surah Al Fath ayat 18--, akan diganjar surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abu Bakar dan Umar Radiallaahu Anhuma jelas-jelas ikut dalam baiat itu," jelas Ustad Rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog terasa semakin memanas saat Ustad Rahmat menegaskan bahwa kitab-kitab utama rujukan kaum Syiah seperti Al Kaafi dan Biharul Anwar berisi hujatan yang ditujukan kepada tiga khalifah Ar Rasyidin, utamanya Abu Bakar, Umar dan Ustman. Dia juga mengungkapkan bahwa golongan Syiah menganggap dua istri Rasul saw Aisyah binti Abu Bakar dan Hafsah binti Umar sebagai orang yang zindik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba fikir, bagaimana mungkin Rasul saw mau menikahi orang yang zindik," kata pria yang memanjangkan jenggotnya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ustad Rahmat, Ahlusunnah berkeyakinan bahwa seluruh sahabat bersifat 'Adalah. Namun, dia mengakui bahwa sahabat Nabi saw bisa saja salah dalam mengambil kebijakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetapi jika mereka salah, maka itu dianggap salah dalam berijtihad dan hanya mendapat satu pahala. Dan jika mereka berdosa, Allah swt telah menjamin mengampun seluruh dosanya sesuai yang diterangkan Alquran," kata Ketua LKKS (Lembaga Kajian Konsultasi Syariah) DPP Wahdah Islamiyah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Kang Jalal dan Ustad Rahmat, dialog ini juga mempersilahkan Muhammad Zain memaparkan makalahnya. Zain yang sudah bertahun-tahun meneliti sejarah sahabat Nabi saw sebenarnya diharap dapat meredam perseteruan antara kedua kelompok ini. Alih-alih menjadi penengah, Zain, meski mampu mengocok perut peserta dialog dengan humor-humor cerdasnya, namun paparan fakta sejarah Sahabat Nabi saw yang dibawakan Zain terasa lebih membenarkan pandangan Syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, Zain justru membuka sisi kelam sejumlah sahabat Nabi saw yang sudah terlanjur diagung-agungkan oleh kalangan Sunni. Bahkan beberapa buku kontroversi seperti kelakuan seks para sahabat juga sempat disinggungnya. Begitu pula dengan fakta sejarah tentang perseteruan di kalangan sahabat Nabi saw. (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati begitu, Zain memesankan bahwa fakta historis mengenai prilaku sahabat Nabi saw tetap patut dijadikan pertimbangan. Sebab dari mereka lah ajaran Islam menyebar. Dengan mengetahui bagaimana kelakuan sahabat sepeninggal Nabi saw, umat bisa menjadi tahu bagaimana ajaran Islam bisa sampai dan bentuk-bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung saja, moderator Hamdan Juhannis mampu memosisikan diri sebagai orang yang netral. Sehingga persinggungan yang lebih jauh pun bisa dihindari. Masalahnya, penanya yang didominasi oleh penganut Sunni, utamanya dari Wahdah cenderung mengangkat pertanyaan yang provokatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, dialog yang digagas PPs UIN Alauddin ini masih belum bisa mencapai tujuan mulianya, yakni 'mendamaikan' penganut Mazhab Syiah dan Mazhab Sunni yang dipercayakan kepada Wahdah Islamiyah. Padahal isu yang diangkat masih terbatas pada lingkup Sahabat Nabi saw, belum keilmuan Fiqh, muamalat, tafsir, dan lainnya. Kendati begitu, usaha PPs UIN Alauddin ini patut diberi apresiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau begitu, suasana tetap terbina dengan harmonis. Usai acara, para Ustad dari masing-masing mazhab saling berpelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia akhir acara, AGH Ahmad Sewang mengingatkan, meski berbeda ideologi dan mazhab, sesama muslim harus saling toleran."Kita hanya mencari kebenaran, bukan pembenaran. Kalau Anda ingin mencari kemenangan, Anda memasuki ruangan yang salah," kata Ahmad Sewang yang disambut aplous meriah dari hadirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Sewang berjanji pihaknya tidak akan berhenti mempertemukan kedua mazhab ini dalam sebuah dialog. Tujuannya, agar umat muslim bisa saling memahami pandangan masing-masing mazhab dan berusaha untuk toleran dan saling menghormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya, dialog Sunni-Syiah akan kembali digelar. Ahmad Sewang menawarkan dialog dilakukan di markas DPP Wahdah Islamiyah. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8233332372138135345-1225027353180523247?l=akbarhamdan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/feeds/1225027353180523247/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/2009/03/sahabat-rasul-saw-juga-bisa-salah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8233332372138135345/posts/default/1225027353180523247'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8233332372138135345/posts/default/1225027353180523247'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/2009/03/sahabat-rasul-saw-juga-bisa-salah.html' title='Sahabat Rasul saw (juga) Bisa Salah'/><author><name>Akbar Hamdan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12217593549486232153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_VqicMMQnPiI/SUDxGRblFJI/AAAAAAAAAAM/IOvvP1cEboA/S220/akbar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8233332372138135345.post-5202311730672988865</id><published>2009-01-21T02:17:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T02:19:17.018-08:00</updated><title type='text'>Imajinasi di sebuah Gala Dinner</title><content type='html'>&lt;div class="note_header"&gt;&lt;div class="note_title_share clearfix"&gt;&lt;div class="note_title"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;Barack Hussein Obama dan Joe Bidden akhirnya terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden Amerika Serikat. Harapan terciptanya Amerika yang lebih baik kini berpangku di ‘tangannya’. Amerika yang hangat terhadap negara-negara berkembang, dan sangat lembut bagi negara miskin. Namun sangat tegas terhadap para negara penindas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Syahdan, saat menduduki kursi kepresidennya di ruang oval gedung putih, pekerjaan pertama Obama adalah memanggil seluruh stafnya. Dia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kumpulkan semua pejabat Pentagon dan panggil dubes-dubes. Ada yang ingin saya sampaikan,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai perintah Obama, maka semuanya dikumpulkan pada sebuah gala diner yang digelar di Gedung Putih. Para undangan menikmati jamuan yang super enak dan super mewah. Suasana yang amat sangat ekslusif. Suara musik instrumental bercampur dengan riuhnya pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai makan, Obama menetak-netak gelas winenya. Dia minta perhatian. Suasana senyap seketika. Obama yang memakai setelan jas hitam dipadu dasi kupu-kupu berdiri. Dia tersenyum lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih karena Anda sekalian telah memenuhi undangan saya. Saya yakin, yang ada di sini adalah orang-orang penting, penentu masa depan bumi dan umat manusia yang ada di dalamnya,” Obama mengawali sambutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus terang, saya mengundang kalian ke sini untuk membahas masalah yang saya pikir sangat penting. Dunia saat ini mengalami krisis yang sangat berat. Dan kalian sudah tahu itu,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obama diam sejenak. Dia lalu melepas dasi kupu-kupunya. Air mukanya tiba-tiba berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malam ini, saya tidak akan melayani ucapan selamat dari pihak mana pun. Saya tidak memerlukan itu untuk saat ini. Maka simpan saja ucapan selamat itu dalam kantung kalian,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obama diam lagi. Dia lalu mendongakkan kepala ke atas. Matanya terpejam. Sekitar 10 detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengar. Malam ini, perubahan yang sangat dramatis akan terjadi. Dan itu harus bermula di ruangan ini, malam ini. Dan perubahan itu, bisa terjadi dengan menyatukan kekuatan bersama. Ya, kita pasti bisa,” kata Obama dengan mengepalkan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tepuk tangan terdengar, disambung tepuk tangan yang lain, dan lain, lagi dan akhirnya tepuk tangan membahana dalam ruangan. Semua undangan berdiri. Standing aplouse.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obama menaik-turunkan tangannya. Memberi isyarat agar riuh tepuk tangan agar segera diturunkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, dia menengok, ke kiri, ke kanan. Mencari-cari sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana kepala departemen kehakiman,” kata Obama setengah berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya di sini yang mulia,” kata seorang pria yang ternyata hanya duduk dua meja di sebelah kirinya. Pria ini tersenyum lebar. Bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana Dubes Israel?” kata Obama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya di sini yang mulia,” kata seorang yang kepalanya telah dipenuhi uban. Senyumnya tak kalah lebar dengan kepala departemen kehakiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik. Selain kedua orang luar biasa ini, saya mohon semua undangan agar duduk kembali,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh undangan menuruti permintaan Obama. Suasana kembali tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu,” kata Obama menunjuk menteri kehakimannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malam ini, sekarang ini, buat surat dakwaan untuk Bush atas kejahatan perangnya di Irak dan negara-negara yang diduduki tentara Amerika. Kirimkan ke Den Hag. Biar dia diadili di sana,” kata Obama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana sontak gaduh. Kepala Departemen Kehakiman tertunduk bisu. Dia terlihat kebingungan. Tiba-tiba saja, Dubes Israel bersuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi yang mulia. Bush telah..,” Dubes Israel menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diam kamu. Saya belum selesai dengannya,” Obama memotong. Dia menatap tajam si Dubes Israel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kepada seluruh undangan, saya mohon agar mendengar yang akan saya ucapkan,” kata Obama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buat juga dakwaan terhadap jenderal-jenderal yang terbukti melakukan kejahatan perang. Baik di Irak maupun Guantanamo. Juga tentara-tentara kita yang telah berbuat biadab terhadap penduduk sipil. Kalau kejahatannya sudah kelewatan, susulkan ke Den Hag. Tapi kalau masih bisa diadili di sini, adili di sini saja. Kita akan upayakan penegakan supremasi hukum yang seadil-adilnya,” papar Obama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri kehakiman masih tertunduk. Terpaku di tempatnya berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa lagi yang kamu tunggu. Tinggalkan secepatnya tempat ini. Dan segera lakukan apa yang saya perintahkan,” tegas Obama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si menteri meninggalkan mejanya. Dia disusul beberapa stafnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kamu,” kata Obama sambil menunjuk dubes Israel untuk negerinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malam ini, sekarang juga, kamu pergi telepon presidenmu. Katakan padanya, Obama minta seluruh paramiliter Israel ditarik dari Gaza. Dan dari seluruh tanah Palestina,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jari telunjuk Obama menunjuk-nunjuk lagi ke bawah. Air mukanya terlihat menegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lakukan apa yang saya katakan. Atau kamu akan mengalami nasib yang sama dengan sesamamu di Bolivia dan Venezuela,” kata Obama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan wajah merah padam, Dubes Israel ini meninggalkan meja makannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, tunggu dulu,” kata Obama setengah berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dubes Israel menghentikan langkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekalian sampaikan pada presiden dan perdana menterimu, agar bersiap-siap menghadapi pengadilan internasional di Den Hag. Amerika sendiri yang akan membuatkan tuntutan. Dan katakan juga, Amerika akan berhenti menyuplai senjata dan peralatan militer ke Israel. Oke,” kata Obama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si dubes melanjutkan langkahnya. Beberapa agen keamanan menyusulnya. Dubes benar-benar meninggalkan ruangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lega rasanya,” kata Obama. Senyumnya kembali. Dia masih berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya sudah bilang dari tadi. Kita pasti bisa berbuat perubahan dengan bersama-sama. Menteri kehakiman saya dan dubes Israel telah menunjukkan komitmennya. Mereka kini sedang bekerja untuk menciptakan bumi yang damai,” kata Obama lalu kembali duduk di kursinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada tepuk tangan. Keheningan mencekam ruangan gala diner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah. Sekarang, apa yang bisa kita lakukan lagi. Apa bisa kita lanjutkan dengan masalah Korea Utara, Pakistan, India, atau Iran,” kata Obama. Dia melempar pandangannya ke seluruh hadirin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ups. Imajinasi saya hanya sampai di sini saja. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8233332372138135345-5202311730672988865?l=akbarhamdan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/feeds/5202311730672988865/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/2009/01/imajinasi-di-sebuah-gala-dinner.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8233332372138135345/posts/default/5202311730672988865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8233332372138135345/posts/default/5202311730672988865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/2009/01/imajinasi-di-sebuah-gala-dinner.html' title='Imajinasi di sebuah Gala Dinner'/><author><name>Akbar Hamdan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12217593549486232153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_VqicMMQnPiI/SUDxGRblFJI/AAAAAAAAAAM/IOvvP1cEboA/S220/akbar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8233332372138135345.post-4470307593843216581</id><published>2009-01-19T22:25:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T22:27:04.331-08:00</updated><title type='text'>Per Hari, 10.000 Transaksi Seks di Sulsel</title><content type='html'>&lt;input id="post_form_id" name="post_form_id" value="7b44a2a24d6b308f7174ab6ef4b814b8" type="hidden"&gt;&lt;div class="note_header"&gt;&lt;div&gt;&lt;div class="note_title"&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;Anda terkejut dengan judul utama halaman ini? Bagi Anda yang bukan hidung belang, angka 10.000 transkasi seks per hari di lokasi pelacuran memang pantas bikin terkejut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;br /&gt;Faktanya, di seantero provinsi ini, khususnya di Kota Makassar, jumlah pelacur yang menawarkan tubuhnya diyakini antara 2500 hingga 3000 orang. Dan setiap pelacur, diperkirakan melayani birahi 4 sampai 5 orang per hari. Jika kalkulasinya seperti itu, maka 10.000 transaksi seks sesungguhnya jumlah minimal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun bagi Anda yang merasa hidung belang, tingginya jumlah transaksi seks ini sepantasnya diwaspadai. Sebab itu juga menjadi pertanda bahwa risiko tertular HIV/AIDS semakin tinggi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dan fakta ini yang harus diperhatikan oleh masyarakat umum. Bahwa kasus HIV/AIDS di Sulsel, sudah melampaui 2200 kasus hingga penghujung 2008 ini. Dari penelitian penyuluh HIV/AIDS senior, Prof Dr dr HM Alimin Maidin M PH, kasus HIV/AIDS ini mengalami tren kenaikan berlipat dua setiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, jika di penghujung 2008 ini terdata lebih 2200 kasus, maka tidak menutup kemungkinan pada 2009 akan membengkak hingga 4000 kasus, dan 2010 nanti menjadi 8.000 kasus. Atau mungkin, 10.000 kasus!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengendalikan birahi dan tidak terjerumus dalam dunia narkotika barangkali menjadi satu-satunya cara menghindari masuknya HIV ke dalam tubuh kita. Prof Alimin sendiri mengaku sudah sangat susah menyuluh para remaja. Hari ini mendengar, besok sudah dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, belum ada obat yang bisa menyembuhkan penderita HIV/AIDS secara total. Paling tidak, obat yang diberikan hanya menahan virus ini merusak tubuh. Yang pasti, virus HIV menggerogoti penderitanya secara perlahan-lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HIV akan dibawa seumur hidup. Sebuah penderitaan yang tak terperi. Nasta'inu biL laahi minal Bala.  (*)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8233332372138135345-4470307593843216581?l=akbarhamdan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/feeds/4470307593843216581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/2009/01/per-hari-10000-transaksi-seks-di-sulsel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8233332372138135345/posts/default/4470307593843216581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8233332372138135345/posts/default/4470307593843216581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/2009/01/per-hari-10000-transaksi-seks-di-sulsel.html' title='Per Hari, 10.000 Transaksi Seks di Sulsel'/><author><name>Akbar Hamdan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12217593549486232153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_VqicMMQnPiI/SUDxGRblFJI/AAAAAAAAAAM/IOvvP1cEboA/S220/akbar.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8233332372138135345.post-3987672298704259242</id><published>2008-12-24T05:50:00.000-08:00</published><updated>2008-12-24T06:19:33.050-08:00</updated><title type='text'>Menggugat Kurikulum Tarikh Islam dan Biologi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Balonku Ada Lima&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Rupa-rupa warnanya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Meletus balon hijau, duarrr...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Hatiku sangat kacau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Balonku tinggal empat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kupegang Erat-erat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu ini sudah melegenda. Popularitasnya belum lekang selama beberapa dekade ini. Tiap taman kanak-kanak telah menjadikan lagu ini sebagai wajib hapal. Saya juga termasuk generasi penghapal lagu yang tak saya ketahui, siapa pengarangnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu kali, saya dan teman-teman mendampingi sebuah tim ekspedisi dari Mataram untuk mendaki Pegunungan Bawakaraeng. Kala itu, rambut saya masih gondrong. Rambut gondrong, kaos hitam, gelang karmantel, memang menjadi identitas para petualang alam bebas di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memulai pendakian, kami istirahat di rumah penduduk Lembanna, di kaki Pegunungan Bawakaraeng. Usai makan siang, salah seorang teman dari Mataram mengambil gitar. Dia lalu memainkan lagu slow rock dari barat. Suaranya lumayan rocker. Teman-teman yang lain duduk di sekitarnya. Beberapa dari mereka minum anggur merah untuk menghangatkan badan. Suhu saat itu memang sangat dingin. Mungkin sekitar 14-15 derajat celsius. Yang tidak gemar miras, hanya minum kopi atau teh yang dicampur irisan jahe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali tak ada yang backing vocal, si pemain gitar ini mulai risih menyanyi sendiri. Dia lalu mengubah total lagunya. Dia menyanyikan lagu Balonku Ada Lima, tapi dengan warna rock. Lucu kedengarannya. Teman yang lain tertawa terpingkal-pingkal. Suasana berubah gaduh. Kami pun ikut menyanyikan lagu anak-anak yang populer itu dengan gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam atau tujuh tahun sejak peristiwa itu, saya menerima milis dari seorang teman. Topik yang dibicarakannya sebenarnya ringan, tentang lagu Balonku Ada Lima ini. Bahwa sebenarnya, balon dalam lagu itu bukan lima, melainkan enam. Dia pun merincinya satu per satu. Merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru. Lalu balon keenamnya adalah balon hijau yang meletus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati, saya tertawa kecil. Menertawakan diri saya dan mungkin berjuta-juta orang lainnya yang telah ‘dipelonco’ oleh lagu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, entah sudah berapa banyak ilmu yang kita dapatkan, baik dari pengalaman maupun dari bangku sekolah formal. Beberapa diantaranya kita saring sesuai dengan keinginan jiwa. Sebagian ilmu lagi ditelan mentah-mentah. Ditelan mentah-mentah karena tidak ada keinginan menggali lebih dalam ilmu itu dan siapa pengajar ilmu itu. Dalam istilah syariat, yang seperti ini disebut taklid buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya salat. Kebanyakan dari kita ikut salat cara orang tua, keluarga atau dari guru agama. Bagi yang bertaklid buta, salatlah ia dengan cara salat orang yang mengajarnya. Bagian buruknya, jika pengajarnya itu tidak bertambah pengetahuannya tentang salat atau ilmu agama yang lain, maka begitu pun dia. Dan jika pengajarnya itu meninggal dunia, maka berakhir pulalah pengetahuannya tentang salat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat, ketika menunaikan haji dan melangsungkan salat berjamaah di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, si pentaklid buta barangkali akan terkejut melihat betapa beragamnya cara orang salat. Ada yang bersedekap tepat di tengah dada, ada yang sedikit turun ke perut, ada yang sedekap di bawah pangkal lehernya, dan bahkan ada yang sama sekali tidak sedekap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur-syukur jika si pentaklid buta ini mau menerima keberagaman. Meletakkan urusan fiqh dibawah lapisan akhlak. Karena celaka lah kalau tidak. Dia pasti akan menuding semua yang tidak sama dengannya sebagai pengamal bid’ah. Seakan-akan dia yang menentukan orang masuk syurga atau neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taklid buta memang harus dihindari. Tapi ada kalanya, taklid buta itu terasa berat ditentang. Seperti lagu Balonku Ada Lima itu. Kita menyanyikannya dari waktu ke waktu tanpa menyadari ada kesalahan angka yang tersembunyi di balik nadanya, legendanya, semangatnya, atau apalah namanya. Ada beberapa masalah atau bahkan mungkin kepentingan yang ‘memaksa’ agar sebagian kita tetap bertaklid buta. Tetap seperti apa yang mereka inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat kepingan-kepingan pelajaran sejarah Islam saat mondok di madrasah tsanawiyah Pesantren DDI Mangkoso. Di pesantren, kami mempelajari Tarikh (Sejarah) Islam yang berjilid-jilid. Kalau tidak salah sampai tiga jilid untuk tingkat tsanawiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarikh ini lebih banyak membahas soal sejarah pemerintahan dinasti Islam, utamanya dua dinasti besar; Dinasti Umayyah yang didirikan Muawiyah bin Abi Sofyan serta Dinasti Abbasiyah yang didirikan Abbas bin Ash Shaffah. Juga, tentang siapa-siapa saja penguasanya dan kapan kerajaan Islam ini mengalami masa keemasannya. Tak lupa pula beberapa sahabat Rasul saw yang disebut-sebut sebagai orang muqarrabin, pedang Allah dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pesantren, hukuman fisik yang keras menjadi salah satu cara memacu kemauan santri belajar. Cambukan, plintir, hingga tamparan adalah pemandangan lazim ditemui di pesantren. Saya sendiri sudah berkali-kali kena cambuk jika tak bisa menghapal pelajaran yang ditugaskan. Termasuk pelajaran tarikh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru tarikh saya bernama Drs Muhammad Sadiq. Panggilannya Pak Sadiq. Penampilannya selalu rapi. Kopiah yang terpasang agak miring serta kacamata cokelat tebal menjadi ciri khasnya. Bagi santri tsanawiyah, Pak Sadiq masuk dalam jajaran guru killer. Tapak tangannya yang tebal selalu siap mendarat keras di pipi jika ada kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, kami mendapat tugas menghapal sejumlah nama pejabat pada Dinasti Umayyah. Tahun kelahirannya, kapan menjabat, proses penyerahan jabatan, harus sudah dihapal diluar kepala. Tapi yang ditekankan Pak Sadiq, prestasi mereka saat menjabat sebagai khalifah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu menyetor hapalan tiba. Jantung saya mulai berdegup kencang. Berhadapan dengan guru killer memang selalu membuat saya ketakutan. Waktu itu, saya ingat diberikan tugas menghapal sejarah Muawiyah bin Abi Sofyan, anaknya Yazid bin Muawiyah, serta seorang panglima perang bernama Khalid bin Walid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghapal sejarah tentang Muawiyah tak terlalu sulit bagiku. Sebab sebelumnya saya sudah sering membaca kisah perselisihan Muawiyah dengan Imam Ali kwh, lalu berselisih lagi dengan Hasan bin Ali. Hingga akhirnya, dia berhasil mengambil tampuk kepemimpinan dinasti Islam setelah Imam Ali kwh dibunuh secara keji oleh Ibn Muljam, sang durjana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah tentang Yazid pun mudah dihapal. Karena sejarahnya ditulis ringkas dalam buku itu. Dia hanya diketahui sebagai anak Muawiyah yang melanjutkan kepemimpinan ayahnya yang dianggap berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya berantakan adalah sejarah Khalid bin Walid yang panjangnya bikin ampun. Tokoh yang satu ini merupakan panglima perang yang punya banyak kisah. Sementara memori saya tidak terlalu baik jika berada di bawah tekanan. Dan Pak Sadiq, sama sekali tak mentolelir hapalan yang diucapkan secara terbata-bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plak! Saya terkejut. Seorang kawan telah kena tampar. Dia disuruh keluar kelas. Plak! Kawan lainnya kena tampar lagi. Dia juga diusir dari kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal beberapa nama lagi sebelum namaku disebut. Kawan-kawan yang belum mendapat giliran melafalkan pelan-pelan hapalannya. Tak ada yang saling melirik. Semua sibuk dengan hapalannya. Semua ingin menyelamatkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa teman yang berhasil lolos, duduk tenang di mejanya. Mereka asyik menyaksikan teman-teman yang tengah menjalani ‘masa-masa menyeramkan’ di sisi meja Pak Sadiq. Sedangkan saya terus memacu memori untuk sejarah Khalid bin Walid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Sadiq akhirnya menyebut namaku. Giliranku berdiri di 'lantai pesakitan'. Awalnya, hapalanku tentang Muawiyah dan Yazid lancar-lancar saja. Namun saat sejarah Khalid, memoriku mulai tersumbat. Sorot mata Pak Sadiq membuatku semakin takut. Saya mulai kesulitan merunut. Endingnya, hapalanku jadi buyar. Dan Plak!! Aku kena tamparnya. Dia mengusirku keluar kelas, bergabung dengan rekan-rekanku yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa penamparan memang singkat tapi beraneka rasanya. Malu dan sakit tentunya. Tapi setelah itu, saya seperti merasa plong. Itu juga yang saya lihat pada teman-temanku. Mereka bahkan menertawaiku. Kami membincangkan bagaimana rasa tapak tangannya Pak Sadiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua belas tahun setelah peristiwa itu, saya memeluk Mazhab Ahlulbait. Karena masih baru, saya pun mulai mencari literatur-literatur yang berkaitan dengan mazhab ini. Termasuk soal tarikh. Beberapa teman juga berbaik hati memberikan buku-bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Kutemukan Kebenaran karangan Muhammad At Tijani Samawi adalah buku paling pertama yang saya baca diawal menjalankan Mazhab Ahlulbait. Dari buku ini, saya kemudian tertarik membaca kisah Karbala. Beberapa teman menawarkan sejumlah buku tentang Karbala. Tapi kupilih yang paling tebal. Ada lebih 1000 halaman. Sayangnya, saya sudah lupa siapa pengarangnya. Seingatku, gambar seseorang yang sangat tampan dan berwibawa menjadi sampul buku ini. Beliau adalah Husain bin Ali as. Salah satu cucu kesayangan Rasul saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pesantren dulu, saya memang sering mendengar nama Husain bin Ali as. Namun sebatas bahwa beliau putera Imam Ali kwh yang pernah menawarkan badannya sebagai ganti qishash kakeknya yang mulia, Rasulullah saw. Bahwa beliau sering disebutkan sebagai Penghulu Pemuda Syurga. Hanya itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Karbala akhirnya menjelaskan kepadaku, siapa sosok Husain bin Ali as sebenarnya. Karbala, saksi bisu kebiadaban sekelompok manusia, terhadap lelaki yang sering dicium-cium Rasul saw saat masih kecil, Husain bin Ali as. Karbala, menjadi tempat berhadap-hadapannya kebenaran dan kebatilan. Antara 73 cucu dan keponakan Nabi saw, melawan lebih 60.000 pasukan Yazid bin Muawiyah. Karbala pada Asyura (10 Muharram) bukan peperangan. Namun pembantaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Karbala ini menjelaskan dengan rinci bagaimana menderitanya para cucu dan keturunan Nabi saw menjelang Asyura. Saat membaca untaian demi untaian kata, saya bisa merasakan bagaimana si penulis menuliskan sejarah ini dengan hati tersayat-sayat. Penulis buku itu berhasil membuat air mataku bercucuran. Padahal, saya sebenarnya termasuk orang yang sulit meneteskan air mata kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada kisah bayi Husain as, Ali Al Ashgar yang kehausan --- karena pasukan Yazid memblokir sungai Eufarat---, akhirnya syahid setelah lehernya tertembus panah beracun. Nafasku tiba-tiba sesak. Pandangan menjadi kelam. Saya tak kuasa melanjutkan bacaan itu. Saya menutup buku Karbala. Kejam nian. Hatiku merintih; manusia seperti apa yang begitu tega menyakiti cucu-cucu Rasul saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ubaidillah bin Ziyad, Yazid bin Muawiyah, Muawiyah bin Abi Sufyan, Syimr serta sederet nama lainnya diabadikan dalam sejarah ini. Mereka adalah kelompok orang yang sangat membenci para Ahlulbait Nabi saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi sadar, lalu teringat pelajaran tarikh di pesantren. Yazid bin Muawiyah? Muawiyah bin Abi Sufyan? Bukan kah mereka adalah orang yang dianggap sukses dalam memerintahkan dinasti Islam? Muawiyah bahkan disebutkan sebagai raja yang membawa Islam pada era keemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yazid?! Saya akhirnya paham, mengapa kisahnya dalam tarikh yang pernah saya hapal itu sangat singkat. Beda mazhab, maka beda pula sejarahnya. Barangkali, ada yang ingin agar sebagian anak-anak muslim tidak mengetahui siapa Yazid. Atau mungkin, apa itu Karbala, apa itu Asyura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal fiqh atau tafsir --namanya juga tafsir--, mazhab boleh saja beragam. Tapi sejarah, pasti hanya satu yang benar. Dimensinya hanya satu. Yang jelas para Ulama, aliran mazhab, ideologi, tarikat, satu pandangan dalam peristiwa Karbala. Dan peranan Yazid dalam peristiwa itu, luar biasa panjangnya. Luar biasa dosanya. Iblis, sang penguasa jagad kejahatan saja, tak sanggup menyaksikan saat-saat para durjana itu, mencabik-cabik tubuh Husain bin Ali as. Begitu yang saya kutip dari penjelasan buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Khalid bin Walid? Di luar kisah heroiknya yang pernah saya pelajari, ternyata dia juga dikisahkan membunuh Malik bin Nuwairah lantaran terpikat kecantikan istri Malik, Laila binti Mihlal. Usai membunuh Malik bin Nuwairah, Khalid pun meniduri Laila malam itu juga. Kisah ini sebenarnya menyangkut pertentangan pendapat antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar. Sebab Umar ingin menghukum mati Khalid melalui rajam. Namun Abu Bakar membelanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merenung. Ini tidak lagi sekadar ‘menertawakan diri sendiri dan jutaan orang lain’ seperti saat saya selesai membaca milis Balonku Ada Lima. Ini, persoalan yang sangat serius. Saya ingin menggugat. Kenapa kisah Karbala tak pernah diajarkan di bangku sekolah? Bahkan di pesantren sekalipun? Padahal kisah ini mendapat pengakuan dari seluruh Ulama, seluruh mazhab, seluruh ideologi, seluruh aliran pergerakan Islam. Seluruh aliran tarikat memeringatinya setiap 10 Muharram, kendati dengan cara berbeda-beda. Kenapa tokoh-tokoh durjana dalam peristiwa Karbala justru diagung-agungkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang membiarkan kita terus bertaklid buta. Celaka! Sejarah yang salah itu, telah diajarkan sejak dini. Di sekolah-sekolah agama. Di pesantren-pesantren. Kurikulumnya masih tetap dari dulu sampai detik ini. Dan itulah yang tertanam di pikiran kami, para santri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apa benang merah taklid buta ini dengan biologi? Kita mungkin masih mengingat teori evolusi yang ditemukan oleh Charles Darwin. Teori ini tidak sekadar mengajarkan bahwa manusia berasal dari kera, tetapi juga menjelaskan bahwa semua mahluk hidup ini ada dengan sendirinya. Dengan kata lain, teori evolusi mengajarkan kepada kita tidak adanya penciptaan. Bahwa Tuhan itu, tidak ada!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di abad milineum ini, teori evolusi mulai meradang seiring berkembangnya ilmu mikrobiologi dan antropologi. Bahkan dilaporkan sudah runtuh. Para pendukung evolusi tak bisa lagi menjelaskan bagaimana kompleksnya susunan DNA dan RNA. Juga bagaimana hilangnya mata rantai fosil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Harun Yahya, cendikiawan muslim dari Turki yang telah meruntuhkan teori evolusi ini. Padahal Harun Yahya sendiri tidak pernah mengecap ilmu sains di bangku sekolah formal. Namun kegigihannya dalam belajar dan meneliti, ---bahkan saat dalam penjara-- membuatnya menguasai ilmu sains. Harun Yahya, juga telah berbaik hati menyebarkan ilmunya melalui internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, belum lama ini, Seminar Internasional oleh Wallacea digelar di Makassar. Temanya, mengenang surat dari Ternate. Saya ceritakan sedikit. Dalam kisah Charles Darwin, ternyata terselip nama Alfred Russel Wallace. Saat terserang demam tinggi di Ternate, Wallace mendapat semacam pencerahan. Bahwa ternyata, mahluk yang terkuatlah yang bisa bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallace lalu mengirimkan surat kepada sahabatnya, Charles Darwin. Sang Darwin terkejut dengan penjelasan ilmiah kawannya ini. Berbekal surat itulah, teori evolusi itu akhirnya menjadi 'sempurna'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak mengangkat teori darwin secara gamblang dalam seminar itu, setidaknya ada upaya menyegarkan kembali pikiran kita tentang eksistensi teori evolusi. Kembali menyegarkan, bahwa kita ini ada dengan sendiri. Bukan diciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa juga, Dubes AS untuk Indonesia, Cameron R Hume, menghadiri seminar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika masyarakat Eropa kini diguncang dengan keruntuhan teori evolusi, bagaimana di Indonesia? Di Sulawesi? Di Makassar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid-murid yang lugu itu, adik-adik kita, anak-anak kita, masih asyik di bangku sekolahnya, menghapal dengan baik runtutan evolusi jerapah, atau burung finch di kepulauan Kalapagos, Capalagos, atau apalah. Saya sendiri berusaha untuk melupakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara jutaan guru biologi yang muslim atau muslimah, mungkin telah mempersiapkan hukuman fisik bagi pelajar yang tak bisa menghapal dengan baik teori evolusi. Setidaknya, angka merah untuk jawaban yang tak sesuai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, apa yang bisa kita lakukan? Membiarkan diri terus ditaklid-butakan? Saya cuma bisa menggugat kurikulum tarikh Islam dan biologi lewat tulisan ini. Anda harus bisa lebih dari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf. Saya ingin menyanyi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Merah, kuning, kelabu, merah muda dan biru. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Meletus balon hijau. Duar!! &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hahahahaha....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8233332372138135345-3987672298704259242?l=akbarhamdan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/feeds/3987672298704259242/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/2008/12/menggugat-kurikulum-tarikh-islam-dan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8233332372138135345/posts/default/3987672298704259242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8233332372138135345/posts/default/3987672298704259242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/2008/12/menggugat-kurikulum-tarikh-islam-dan.html' title='Menggugat Kurikulum Tarikh Islam dan Biologi'/><author><name>Akbar Hamdan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12217593549486232153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_VqicMMQnPiI/SUDxGRblFJI/AAAAAAAAAAM/IOvvP1cEboA/S220/akbar.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8233332372138135345.post-924433135691414060</id><published>2008-12-11T19:54:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T01:39:12.117-08:00</updated><title type='text'>Runtummi Bulu Ruwayya, Ramalan yang Jadi Kenyataan?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_VqicMMQnPiI/SUH4u4rbDOI/AAAAAAAAABA/Qi7DdFUqDkk/s1600-h/pos8.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_VqicMMQnPiI/SUH4u4rbDOI/AAAAAAAAABA/Qi7DdFUqDkk/s400/pos8.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278773722627116258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pegunungan Bawakaraeng adalah salah satu legenda di tanah &lt;st1:place st="on"&gt;Makassar&lt;/st1:place&gt;. Namun penduduk Makassar kuno, atau setidaknya masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;Makassar&lt;/st1:place&gt; yang masih tradisionil selalu menyandingkan nama Bawakaraeng dengan Lompobattang. Memang, Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang merupakan satu kesatuan wilayah atau pegunungan. Bisa juga dikatakan gunung kembar. Secara geografi, Gunung Lompobattang - Bawakaraeng bersatu dalam wilayah pegunungan besar Verbek. Adapun pegunungan Verbek membentang dari Kabupaten Sinjai hingga Kota Parepare.&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat ada syair menyebutkan &lt;i&gt;Punna Runtummi Bulu Ruwayya&lt;/i&gt; yang berarti; &lt;i&gt;Jika Dua Gunung Telah Runtuh&lt;/i&gt;, maka pertanda akan muncul petaka yang sangat hebat. Sebagian orang-orang tua menafsirkan &lt;i&gt;Bulu Ruwayya&lt;/i&gt; berarti dua gunung kembar milik kaum hawa. Intinya, &lt;i&gt;Bulu Ruwayya&lt;/i&gt; disini diartikan simbol kehormatan perempuan. Keruntuhan dua gunung, diartikan keruntuhan moralitas.&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sebagian lagi menafsirkan &lt;i style=""&gt;Bulu Ruwayya&lt;/i&gt; adalah Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang. &lt;i style=""&gt;Runtummi Bulu Ruwayya &lt;/i&gt;diartikan Gunung Bawakaraeng – Gunung Lompobattang benar-benar runtuh. Sebuah fenomena alam. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Jika dilihat dari Kota Makassar, tepatnya ke arah timur, maka Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang terlihat sebagai bukit kembar yang dihubungkan oleh sebuah dataran tinggi diantaranya. Karena terlihat dari jarak kira-kira seratusan kilometer, kita tidak akan bisa membedakan mana yang lebih tinggi, apakah Gunung Bawakaraeng atau Gunung Lompobattang. Puncak kedua gunung ini benar-benar nampak sejajar, sekalipun faktanya, Gunung Lompobattang lebih tinggi beberapa raus meter. Garis punggungannya pun nyaris sama. Benar-benar sepasang gunung kembar. Bahkan mungkin, masih banyak penduduk Kota Makassar yang tidak tahu sebelah mana Gunung Bawakaraeng, dan mana Gunung Lompobattang. Apakah yang sebelah kiri atau kanan.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kembali ke soal penafsiran. &lt;i style=""&gt;Runtummi Bulu Ruwayya&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;punya pesan moril sebagai pertanda munculnya malapetaka besar. Bahkan ada yang melanjutkan, malapetaka ini berupa bentrokan berdarah. Lapangan Karebosi (Titik Nol Kota Makassar) juga dikait-kaitkan dalam syair ini. Maklum, Lapangan Karebosi sendiri juga legenda yang sama terkenalnya karena mungkin sama purbanya dengan dua gunung ini.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Katanya, suatu saat nanti, jika kedua gunung ini runtuh, maka tidak lama lagi akan terjadi semacam perang dengan jumlah korban yang sangat banyak. Saking banyaknya, Lapangan Karebosi yang luasnya 8 hektar nantinya akan terendam darah. Yang mengerikan, darah itu setinggi mata kaki.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Yang mencengangkan bagi saya, penafsiran &lt;i style=""&gt;Runtummi Bulu Ruwayya &lt;/i&gt;sepertinya menjadi semacam ‘ramalan yang jadi kenyataan’. Kalau ditinjau dari penafsiran keruntuhan moralitas, maka kini, faktanya tak terhitung lagi seberapa banyak kaum perempuan yang telah mengalami keruntuhan moralitas. Apa malapetakanya? Jangan ditanya lagi. Saya kira semua sudah tahu. Apalagi dalam ajaran Islam, perempuan selalu ditegaskan sebagai tiangnya negara. Jika perempuannya rusak, maka berarti rusaklah tiang itu. Jika tiang sudah rusak, maka bangunan yang disanggahnya tinggal menunggu waktu ambruk.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Apa yang menyebabkan keruntuhan moralitas seorang perempuan? Jawabannya tentu bisa dari banyak hal. Laki-laki bisa saja jadi disalahkan. Baik lelaki bermoral, apalagi yang amoral. Pun dengan keluarga, lingkungan pergaulan, budaya barat, media informasi yang terlalu bebas, globalisasi atau apa pun namanya. Yang jelas, keruntuhan moral selalu diawali dari runtuhnya benteng keimanan. Syukur-syukur kalau imannya memang pernah menjadi benteng.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Apa yang menyebabkan benteng keimanan ini bisa runtuh? Pertanyaan yang muncul tentu tidak akan ada habis-habisnya dan justru memicu perdebatan yang tak berujung. Dan Saya, amat sangat tidak ingin memancing perdebatan. Karena menurut saya, perdebatan selalu saja mengundang perdebatan lain yang kadang tidak ada hubungannya. Dan sekali lagi, akhirnya akan menjadi sesuatu yang tak berujung.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Tapi kenapa keruntuhan moralitas dalam syair ini dilekatkan kepada si pemilik gunung kembar? Saya pikir, itu urusan pencipta bait syair ini. Kalau tidak suka, silahkan bikin syair sendiri.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Daripada berdebat, lebih baik langsung turun tangan. Membina adik-adik kita, baik laki-laki atau perempuan, atau mengingatkan mereka yang lebih tua dari kita. Tentu saja, si pembina ini harus lebih baik ilmu agamanya atau sekurang-kurangnya bisa menjadi panutan. Soal pembinaan kita berhasil atau tidak, serahkan semua kepada Yang Maha Kuasa. Toh pada hakikatnya, manusia memang tidak bisa memberi hidayah. Paling tidak, kita sudah berusaha menyampaikan hal-hal baik.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Kalau diikuti, sujud syukur. Tidak diikuti, didoakan supaya semoga peroleh hidayah. Ingat, bukan kita yang punya Surga dan Neraka. Orang bijak mengatakan, jika menyangkut hal baik, akan lebih baik terlambat dilakukan daripada tidak sama sekali. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Tafsiran &lt;i style=""&gt;Runtummi Bulu Ruwayya &lt;/i&gt;sebagai&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;runtuhnya Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang, barangkali juga ada benarnya. Tepatnya pada 26 Maret 2004 lalu, sedikit dari bagian Gunung Bawakaraeng ambruk. Sedikit ini berarti ratusan juta kubik tanah, pasir, batu dan pohon dari Gunung Bawakaraeng yang jatuh lalu menimbun ngarai sepanjang 50 km, lebar 2 km – 5 km dan kedalaman 200 m – 600 m. Termasuk menimbun hidup-hidup belasan warga Dusun Manimpahoi yang sehari-hari mengambil berkah dari suburnya Ngarai Gunung Bawakaraeng.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Dahsyatnya ‘murka alam’ ini sampai-sampai menimbulkan kawah-kawah baru di atas bekas tanah longsoran, mulai yang berukuran raksasa hingga kolam-kolam kecil. Juga membentuk aliran-aliran sungai. Bagi kalangan penggiat alam bebas, longsor ini menjadi duka mendalam lantaran telah merenggut panorama eksotis di sebagian pos VII, pos VIII dan sebagian pos IX Gunung Bawakaraeng. Saya termasuk beruntung karena masih sempat mengabadikan gambar di pos VIII, dua pekan sebelum ‘pos’ ini hilang. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Longsor ini sendiri sebenarnya sudah menjadi malapetaka besar. Tetapi saya sangat yakin, dampak longsoran ini akan menimbulkan malapetaka yang lebih besar lagi. Terutama dampaknya terhadap lingkungan hidup. Informasi yang tersiar, material tanah dan bebatuan dari longsoran ini akan memengaruhi ketahanan dinding Waduk Bili-bili yang menjadi sumber air &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;baku&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; utama PDAM Makassar dan PDAM Gowa. Kalau waduk ini sampai rusak, tak berani rasanya saya bayangkan. Krisis air bersih akan melanda satu juta orang di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa.&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Tahun lalu saya dengar, JICA telah mengidentifikasi adanya calon longsoran baru di Gunung Bawakaraeng. Kalau jatuh, diperkirakan mengarah ke Kabupaten Sinjai. Mungkin tinggal menunggu air hujan yang akan semakin memperberat &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; tanah Gunung Bawakaraeng. Apalagi, tanah gunung ini dikenal sangat labil. Selebihnya, akan diselesaikan oleh &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; gravitasi bumi. &lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Soal ramalan terjadinya pertumpahan darah di Lapangan Karebosi, semoga saja itu tidak terjadi. Mudah-mudahan, Karebosi cukup sudah menjadi pertikaian segelintir orang. Wallaahu a’lam bis shawab.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;*) Keterangan Foto: Saya termasuk beruntung bisa mengabadikan pos VIII Gunung Bawakaraeng dua pekan sebelum 'pos' ini hilang. Bagian puncak sudah mengalami tanda-tanda longsor.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8233332372138135345-924433135691414060?l=akbarhamdan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/feeds/924433135691414060/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/2008/12/runtummi-bulu-ruwayya-ramalan-yang-jadi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8233332372138135345/posts/default/924433135691414060'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8233332372138135345/posts/default/924433135691414060'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/2008/12/runtummi-bulu-ruwayya-ramalan-yang-jadi.html' title='Runtummi Bulu Ruwayya, Ramalan yang Jadi Kenyataan?'/><author><name>Akbar Hamdan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12217593549486232153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_VqicMMQnPiI/SUDxGRblFJI/AAAAAAAAAAM/IOvvP1cEboA/S220/akbar.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_VqicMMQnPiI/SUH4u4rbDOI/AAAAAAAAABA/Qi7DdFUqDkk/s72-c/pos8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-8233332372138135345.post-3973414569044075630</id><published>2008-12-11T03:43:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T01:42:43.917-08:00</updated><title type='text'>Ketika Warga Demam Emas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_VqicMMQnPiI/SUEBWd2SunI/AAAAAAAAAAo/Zbp5Ph9p81Q/s1600-h/05-10-FOTO+FICER+EMAS+BOMBANA+%284%29.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_VqicMMQnPiI/SUEBWd2SunI/AAAAAAAAAAo/Zbp5Ph9p81Q/s320/05-10-FOTO+FICER+EMAS+BOMBANA+%284%29.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278501723736029810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sebuah Catatan Perjalanan ke Ladang Emas Bombana&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;Menjelang akhir September lalu, saya mengunjungi Kabupaten Bombana untuk melihat langsung ladang emasnya. Namun belum sampai di Bombana, heboh penemuan tambang emas tersebut sudah terasa. Di pesawat, yang dibicarakan penumpang rata-rata mengenai penemuan emas itu. Begitu pun saat di Bandara Wolter Monginsidi Kendari, menunggu pengambilan bagasi, lagi-lagi pembicaraan tentang emas yang nyaring terdengar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keesokan paginya, dengan menggunakan sepeda motor sewaan, saya berangkat dari Kota Kendari menuju Kabupaten Bombana. Selain karena alasan mabuk darat, saya menggunakan motor atas saran seorang kawan, wartawan salah satu televisi swasta nasional di Kendari. Menurut kawan itu, sejak emas ditemukan di Bombana, tak ada lagi tukang ojek yang beroperasi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kata dia, semua tukang ojek lebih memilih mendulang emas. Sementara angkutan umum di Bombana hanya ojek. Dan untuk mencapai ladang emas, itu masih ada 40 kilometer jarak yang harus dilalui dari kota Kabupaten Bombana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rute Kendari-Bombana lumayan jauh. Jaraknya hampir 170 kilometer. Dengan sepeda motor, perjalanan memakan waktu rata-rata lima jam, atau empat jam dengan kendaraan umum. Namun tidak seperti di Sulsel yang bisa melewati beberapa kabupaten dengan jarak sepanjang itu, Kota Kendari dan Kabupaten Bombana ternyata hanya dipisahkan oleh satu kabupaten saja, Kabupaten Konawe Selatan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perjalanan dari Kendari ke Bombana lumayan asyik. Itu karena pemandangan alamnya masih asri. Jalannya pun rata-rata lurus dan mulus. Pohon-pohon jambu mete begitu mudah ditemukan di sepanjang pinggir jalan poros. Tanaman padi yang masih berumur dua bulan menebarkan wewangian khasnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun ada pemandangan lain yang saya temukan di Konawe Selatan, yang tidak dimiliki daerah-daerah di Sulawesi Selatan. Yaitu pemandangan alam padang rumput savana yang sangat luas dan datar. Jalan poros dari Kendari-Bombana membelah kawasan padang rumput savana dengan panjang jalan sekitar 20 kilometer. Konon, padang savana yang menjadi bagian dari Taman Nasional Rawa Aopa ini, dulunya menjadi daerah koloni ratusan ribu rusa sebelum populasinya menyusut drastis akibat perburuan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di jalan ini pula, saya mulai menemui iring-iringan pengendara motor. Setiap motor membawa peralatan yang sama, yakni tas pakaian, wajan, sekop, linggis, jeriken, karung yang berisi tanah dan beberapa motor memuat tenda plastik yang di Makassar biasa disebut tenda coto. Tak cuma itu, belasan truk serta mobil pikup juga terlihat memuat barang yang sama.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan barang-barang bawaan itu, mereka jelas bukan sedang berwisata. Para pengendara ini kebanyakan datang dari arah Bombana. Saya pun bertanya kepada rombongan pengendara motor yang tengah beristirahat di bawah pepohonan yang terdapat di sela-sela padang rumput savana. Mereka mengaku baru saja meninggalkan kawasan tambang emas Bombana. Dari keterangan mereka, saya peroleh informasi bahwa Pemerintah Kabupaten Bombana berencana menutup kawasan tambang emas itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Tanggal 27 (September, red), tambang emas itu katanya mau ditutup. Kita disuruh pergi. Tapi kita akan datang lagi nanti selesai lebaran,” kata Zainal, salah satu pengendara yang mengaku berasal dari Kabupaten Konawe.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Zaenal dan kawan-kawannya tidaklah pergi dengan tangan kosong. Zaenal sendiri mengaku telah memperoleh sekitar 40 gram emas dari hasil mendulang selama sepekan. Dia kemudian memperlihatkan butiran-butiran emas yang dibungkus dalam kantong plastik transparan yang biasanya digunakan untuk membungkus obat-obatan. Rencananya, Zaenal akan menjual emas itu di salah satu toko emas di Kendari.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Di sana (lokasi tambang, red) ada yang langsung beli emas kita. Tapi harganya hanya Rp 150.000 per gram. Kalau di kota (Kendari, red), masih bisa laku sampai Rp 200.000 per gram,” kata Zaenal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beberapa rekan Zaenal juga mengaku telah memperoleh emas dengan jumlah yang bervariasi. Malah salah satu rekan Zaenal berhasil mengumpulkan 78 gram emas. Jika dia berhasil menjual emasnya dengan harga Rp 200.000 per gramnya, itu berarti uang tunai tidak kurang Rp 15.600.000 akan menjadi miliknya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Asalkan kita mendulang, pasti dapat emas,” kata Firman, warga Konawe yang mendapatkan 78 gram emas tadi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Emas yang mereka telah peroleh itu belum terhitung dengan tanah yang telah mereka karungkan. Setiap pengendara rata-rata membawa sekarung tanah. Zaenal dan Firman mengaku tanah yang diambil dari lokasi tambang itu mengandung emas. Mereka akan kembali mendulang tanah itu jika telah sampai di rumahnya masing-masing.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya kembali melanjutkan perjalanan. Beberapa kilometer di depan, tepatnya di kawasan yang disebut Gerbang PPA, tampak sekelompok polisi dan Satpol PP tengah sibuk memeriksa kendaraan. Seluruh kendaraan yang menuju atau meninggalkan Kabupaten Bombana ditahan di tempat itu. Tampak pula terpajang sebuah spanduk yang intinya pelarangan memasuki kawasan tambang emas sejak tanggal 22 September 2008.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para polisi ini tidak sedang melakukan sweeping lalu-lintas. Tetapi sweeping alat dulang. Tak satu pun pengendara yang mereka lewatkan, termasuk saya. Namun setelah saya memperlihatkan ID Card pers, aparat langsung mempersilakan melanjutkan perjalanan ke Bombana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu polisi menjelaskan bahwa polisi menahan alat mendulang yang dibawa pengendara yang ingin masuk ke Bombana, utamanya wajan, sekop dan linggis. Menurutnya, unsur Muspida Bombana telah sepakat menutup kegiatan aktivitas tambang untuk sementara waktu. Sedangkan mereka yang meninggalkan Bombana, polisi hanya memeriksa senjata tajam yang kemungkinan dibawa oleh pendulang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gerbang PPA ini menandakan Kabupaten Bombana sudah sangat dekat. Sayangnya, kondisi jalan selepas Gerbang PPA ini rusak berat. Di sepanjang jalan menuju Bombana, jumlah pengendara motor semakin banyak ditemui. Beberapa pengendara motor di antaranya adalah satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan seorang anak kecil. Kebanyakan pengendara jalan dengan berkelompok.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menjelang matahari terbenam, saya akhirnya sampai di Kecamatan Rumbia, pusat keramaian Kabupaten Bombana. Di Rumbia, jumlah pengendara motor lebih banyak lagi. Mereka banyak berkumpul di tempat-tempat penjualan bensin eceran.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena perjalanan yang cukup melelahkan, saya tidak langsung menuju Desa Raurau, Kecamatan Rarowatu, tempat di mana emas pertama kali ditemukan. Itu juga atas saran Samir Abdullah, salah seorang tokoh masyarakat setempat yang juga Ketua DPD PKPB Bombana. Namun Samir Abdullah berjanji akan menemani saya ke lokasi tambang emas tersebut keesokan hari.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Malam harinya saya manfaatkan untuk keliling Bombana sekaligus mencari informasi lebih banyak lagi mengenai penemuan emas Bombana. Sekilas, Kabupaten Bombana memiliki tiga dimensi alam, lautan, dataran rendah dan dataran tinggi. Kecamatan Rumbia sendiri berada di daerah pinggiran laut.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti kabupaten-kabupaten yang terletak jauh dari kota, Bombana juga sepi di malam hari. Meski masih dalam suasana Ramadan waktu itu, namun masjid yang saya lewati kebanyakan lengang. Jumlah jemaahnya kurang satu saf.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Samir Abdullah, kebanyakan warga berada di lokasi tambang. Mereka terus mencari emas meski hari telah gelap. Bahkan, Samir menyebutkan bahwa keramaian Bombana telah berpindah ke lokasi tambang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Di sana kendaraan tidak pernah berhenti lalu-lalang. Orang bangun tenda. Mereka makan dan tidur di sana,” kata mantan Camat Lora, Kabupaten Bombana ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia melanjutkan, di masa awal ditemukannya ladang emas itu, Rumbia yang menjadi kota Kabupaten Bombana bak tak berpenghuni. Ribuan penduduknya berbondong-bondong menuju ke ladang emas itu. Jalanan lengang. Rumah-rumah dikunci. Perkantoran menjadi sepi. Pasar nyaris tak beraktivitas karena sebagian besar pedagang ikut mendulang emas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setiap hari, tidak kurang 2000 orang dilaporkan masuk ke Kabupaten Bombana dengan satu tujuan, Desa Raurau. Itu membuat sungai-sungai di Raurau, utamanya Sungai Tahi Ite disesaki para pendulang. Diperkirakan jumlah pendulang mencapai 20.000 orang.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Kotanya Bombana seperti pindah tempat. Banyak sekali orang di sana,” tuturnya&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Usai Salat Jumat, saya dan Samir Abdullah meninggalkan Kecamatan Rumbia menuju ke Desa Raurau, Kecamatan Rarowatu, lokasi emas pertama kali ditemukan. Di siang hari, Bombana ternyata sangat panas. Lebih panas dari Kota Makassar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena jarak yang akan ditempuh diperkirakan 40 kilometer, saya pun harus menambah isi bensin sepeda motor saya yang mulai menipis. Namun saya terkejut karena satu-satunya SPBU di Bombana tutup. Bensin eceran memang banyak dijual. Namun harganya lumayan mahal, Rp10.000 per botol. Itu pun isinya kemungkinan tidak genap satu liter.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di belakang saya, sejumlah pendulang sudah antri mengisi tangki bensin motornya. Tapi mereka tidak mengeluhkan sama sekali mahalnya harga bensin itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari perbincangan di tempat penjualan bensin eceran itu, saya sempat mendengar beberapa pendulang akan menuju ke Wububangka. Di sana, juga ditemukan emas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Tidak lama setelah emas ditemukan di Sungai Tahi Ite, ada juga menemukan emas di Wububangka. Banyak yang ke sana karena tempat pendulangan emas di Tahi Ite sudah dipenuhi pendulang,” jelas Samir Abdullah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mulanya saya sempat bingung apakah akan ke Desa Raurau atau Wububangka. Pasalnya, jarak ke Wububangka lebih dekat. Tetapi karena pertimbangan wilayah Raurau yang lebih luas, saya pun akhirnya memutuskan ke sana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perjalanan ke Desa Raurau memakan waktu lebih satu jam. Untuk jarak 40 km, seharusnya bisa ditempuh selama satu jam. Namun beberapa bagian jalan ke desa ini juga rusak sehingga pengendara harus pelan-pelan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Iring-iringan kendaraan para pendulang seakan tidak terputus. Ada yang menuju ke Raurau, tapi lebih banyak yang terlihat datang dari sana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya pun tiba di Desa Raurau. Sekilas, desa ini terlihat subur. Di pinggir jalan berdiri pebukitan yang berisi pohon-pohon besar. Pada jalan masuk menuju Sungai Tahi Ite, ternyata sudah dijaga oleh aparat Satpol PP. Di gerbang jalan masuk, juga dipajang spanduk yang berisikan larangan masuk ke wilayah tambang emas. Bentuk spanduknya sama dengan yang dipasang di Gerbang PPA. Hanya saja, di sini tidak ada sweaping alat dulang. Yang ingin masuk, cukup meninggalkan kartu identitasnya kepada petugas. Petugasnya pun cukup ramah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mencapai lokasi tambang emas dari jalan masuk tidak cukup sulit. Sebab sebelum lokasi tambang terdapat pemukiman transmigran. Sudah terbentuk jalan untuk kendaraan roda empat meski masih dari tanah dan bebatuan. Pemukiman transmigran terbagi menjadi beberapa Satuan Pemukiman (SP).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemandangan alam di SP ini jauh berbeda dengan di sekitar pinggiran jalan tadi. Pebukitannya tandus. Kebanyakan hanya ditumbuhi ilalang. Tapi tak pernah ada yang menyangka, di daerah tandus inilah emas itu bersemayam. Luasnya, ratusan bahkan mungkin ribuan hektar. Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanya hamparan pebukitan tandus.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penemuan emas itu jelas menjadi berkah yang tak terkira bagi para transmigran yang selalu diidentikkan dengan hidup kekurangan. Saat memperoleh lahan masing-masing satu hektar, para transmigran memanfaatkannya untuk bercocok tanam. Tapi sayangnya, lahan itu kurang subur. Namun kini, terungkap fakta bahwa tidak suburnya tanah itu karena mengandung banyak logam mulia, emas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ayah Haris, salah satu transmigran yang bermukim SP 2 boleh dikata tinggal mewujudkan impiannya. Ayah Haris mengatakan telah memperoleh puluhan gram emas saat mendulang di sungai yang terdapat di dekat rumahnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Tapi sekarang saya berhenti mendulang dulu. Soalnya kaki saya dimakan air,” katanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Haris, tak mendulang pun, para transmigran pemilik lahan sebenarnya sudah bisa memperoleh emas hanya dengan ongkang-ongkang kaki di rumahnya. Sebab ada perjanjian yang mereka buat dengan para pendulang pendatang, di mana setiap 5 gram emas yang diperoleh oleh pendulang pendatang, 2 gram diserahkan kepada pemilik lahan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Tetangga saya rata-rata sudah punya ratusan gram emas. Dan mereka tidak perlu capek-capek mendulang di sungai,” kata Haris yang menjadi kepala dusun di SP 2.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Haris, kebanyakan transmigran menjual emasnya kepada para pembeli emas seharga Rp150.000 per gram. Para pembeli emas ini memang banyak ditemukan di sekitar lokasi tambang. Jumlahnya mencapai ratusan orang. Bahkan kabarnya, banyak pemilik toko emas di Kota Kendari membawa uang miliaran rupiah ke Raurau untuk membeli butiran-butiran emas yang didapatkan oleh pendulang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ada dulu yang sampai bawa uang Rp2 miliar. Uangnya habis, tapi yang mau menjual emasnya masih banyak,” kata Haris.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Peredaran uang hingga miliaran rupiah di Raurau tampaknya bukan cerita kosong. Beberapa pendulang yang saya temui di sungai Raurau mengaku rata-rata bisa memperoleh emas sampai 3 gram per hari. Saya bahkan sempat bertemu dengan seorang bocah berumur sekitar delapan tahun bernama Andi yang mengaku telah memperoleh emas 1,5 gram dalam tiga kai mendulang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Saya sudah dapat 5 gram emas,” kata Umar Lathief, warga Kolaka Utara yang mengaku baru pertama kali mendulang emas dalam hidupnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di masa awal, diperkirakan ada 20.000 orang mendulang emas. Jika 20.000 pendulang ini rata-rata memperoleh 3 gram emas saja per hari, itu berarti tidak kurang 60 kg emas yang terangkat dari dalam tanah Raurau. Kalau dikalikan lagi dengan harga emas setempat Rp150.000 per gram, itu berarti nilai emas yang diperoleh tiap hari mencapai Rp9.000.000.000. Dan aktivitas penambangan ini diperkirakan sudah berlangsung sebulan lebih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Boleh dikata, ladang emas ini membuat banyak orang mendadak menjadi jutawan. Yang santer terdengar, sepeda motor di Kabupaten Bombana langsung habis terjual. Bahkan juga di Kota Kendari. Bukan dibeli secara cicil, tapi tunai.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Itu kisah baiknya. Bagian kurang baiknya, tidak sedikit warga yang menderita sakit karena terlalu lama jongkok mendulang. Banyak juga yang terserang penyakit kulit karena terkena air sungai yang sudah tercemar. Sejak didulang, sungai-sungai itu tidak mengalirkan lagi air sebagaimana mestinya. Kubangan bekas mendulang ada di mana-mana. Airnya berwarna cokelat keruh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun bagian terburuk dari kisah penemuan ladang emas ini adanya korban jiwa. Banyak versi mengenai jumlah korban yang tewas. Ada yang bilang 10 orang. Koran-koran lokal melaporkan lima orang. Namun keterangan yang diperoleh penulis dari Wakapolres Bombana AKP Laode Kadiman disebutkan hanya 4 orang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;AKP Laode mengatakan, tiga korban tewas saat membuat rongga di tepian sungai. Sebab sewaktu membuat rongga dalam tanah, mereka tidak menyadari tumpukan material tanah di atas rongga itu akan semakin berat. Dan hukum gaya gravitasi akhirnya membantu tanah itu rubuh dan menewaskan pendulang itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ada juga pendulang tewas karena tertimpa pohon karena pendulang menggali di bagian akar pohon itu. “Satu lagi pendulang tewas karena kecelakaan lalu-lintas di sekitar lokasi tambang,” tandas AKP Laode. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Wakapolres AKP Laode Kadimu membantah isu yang menyebutkan adanya pendulang yang tewas karena dibunuh. “Tak ada yang mati terbunuh. Rata-rata karena kecelakaan kerja saja,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terlepas benar tidaknya isu terjadinya pembunuhan di lokasi tambang emas ini, konflik antarsesama pendulang memang sangat mungkin terjadi. Pemicunya pun bisa sangat beragam. Bisa karena faktor kecemburuan atau pun karena isu kesukuan. Pasalnya, masyarakat pendulang sangat heterogen.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Data pemerintah setempat menyebutkan pendulang datang dari berbagai daerah. Bahkan ada yang datang jauh-jauh dari Timika, Riau dan Pulau Jawa. Yang jadi masalah, para pendulang pendatang rata-rata sudah memiliki pengalaman mendulang, utamanya yang dari Timika dan Jawa. Sementara warga lokal rata-rata masih amatir. Tampaknya, potensi konflik ini merisaukan Pemkab Bombana hingga akhirnya menutup ladang emas itu untuk sementara waktu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bukan itu saja, sejak ladang emas ini ditemukan, banyak timbul masalah sosial yang sangat serius. Nelayan tak mau lagi melaut. Para petani tidak menghiraukan lagi sawahnya yang saat itu seharusnya dipanen. Pedagang sembako enggan lagi menjual di pasar. PNS, terlebih lagi pegawai honor, tidak konsentrasi kerja. Semuanya berbondong-bondong ke ladang emas karena memang hasilnya sangat menggiurkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Harga di pasaran melonjak tajam. Apalagi alat mendulang, utamanya wajan. Harganya naik sampai 300 persen. Saya juga sempat ke pasar untuk membeli ayam. Harganya sungguh terlalu, Rp200.000 per ekor. Itu pun ukurannya tidak terlalu besar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka pada Sabtu 27 September lalu, pemerintah akhirnya menutup kawasan tambang emas. Tidak kurang 800 aparat gabungan dikerahkan untuk mensterilisasikan kawasan tambang dari para pendulang. Tidak itu saja, polisi dibantu Satpol PP dan TNI harus bersiaga 24 jam di pintu-pintu masuk Kabupaten Bombana untuk mengantisipasi arus masuk ‘pendatang’ yang ingin mendulang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kata Wakapolres Bombana AKP Laode Kadimu, selain dari Gerbang PPA, Bombana juga bisa diakses melalui Tauduri, Kabupaten Kolaka. Namun titik yang paling ketat penjagaannya dilakukan di kawasan tambang, Desa Raurau, Kecamatan Rarowatu. AKP Laode mengatakan polisi juga mempertimbangkan untuk menambah jumlah personilnya. Sebab anggota polisi Bombana hanya sekitar 300an orang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bupati Bombana DR H Atikurahman mengatakan kawasan tambang hanya ditutup selama sebulan. Dan dalam waktu satu bulan ini, pemerintah akan berkonsentrasi membuat perangkat-perangkat aturan pertambangan yang diperlukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Penemuan emas adalah berkah bagi daerah dan rakyat kami. Namun undang-undang tetap mengamanahkan bahwa kekayaan alam merupakan milik pemerintah dan dikelola untuk kesejahteraan rakyat. Untuk itu, kita perlu menertibkan aktivitas penambangan supaya tidak muncul masalah yang kita tidak inginkan,” jelasnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia melanjutkan, sudah banyak investor, baik dari luar negeri maupun dalam negeri yang tertarik dengan ladang emas Bombana. Tetapi menurutnya, pihaknya tetap memprioritaskan warga Bombana untuk mengelola tambang emas tersebut. Warga dari luar Bombana juga tetap bisa ikut menikmati emas Bombana, tetapi ada aturannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika nantinya tambang sudah dibuka untuk masyarakat umum, pendulang harus memiliki kartu ijin menambang. Bagi warga lokal, kartu ijin menambang bisa didapatkan dengan melampirkan KTP-nya. Namun syarat ‘agak berat’ diberlakukan bagi warga luar Bombana. Sebelum memperoleh kartu ijin menambang itu, mereka harus mengurus dulu rekomendasi dari kepala daerahnya (Bupati/Walikota), gubernur setempat, Gubernur Sulawesi Tenggara, Bupati Bombana dan surat keterangan berdomisili sementara.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain itu, pendatang juga diwajibkan memiliki keterangan tidak pernah terlibat kasus kriminal serta membayar biaya retribusi Rp100.000 untuk ijin menambang selama enam bulan dan retribusi dari beberapa persen dari hasil mendulangnya. Dan kemungkinan, masih ada lagi syarat yang akan dibuat oleh pemerintah setempat untuk pendulang pendatang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bupati Atikurahman juga mengaku penemuan tambang emas ini sudah dilaporkan kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono. SBY pun sempat titip pesan. Kata Bupati Atikurahman, SBY berpesan agar tambang itu harus dikelola dengan baik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemerintah setempat juga sudah merancang persiapan tambang rakyat di sepanjang 20 km pada aliran-aliran sungai yang mengandung emas. Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Bombana Ir Kahar MS menjelaskan pemerintah akan membuat 10 zona tambang rakyat dengan panjang 2 km setiap zonanya. Satu zona bisa menampung hingga 400 kelompok penambang di mana setiap kelompok akan terdiri dari 20 sampai 30 orang pendulang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Sepuluh persen hasil tambang mereka akan menjadi milik pemerintah. Baik berupa uang maupun emas,” tambah Kahar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari survey sementara yang dilakukan Distamben Bombana, potensi emas tersebar pada sedikitnya 5000 hektare, khusus di Kecamatan Rarowatu dan Kecamatan Rarowatu Utara. Emas ini terdapat di pebukitan, aliran-aliran sungai serta pemukiman transmigran, utamanya SP (satuan pemukiman) 7, SP 8, SP 9 dan SP 10.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jumlah deposit emasnya pun cukup mencengangkan, sekitar 158.000 ton.&lt;br /&gt;Andai jumlah emas ini dikalikan dengan harga jual emas Rp200.000 per gram saat ini, maka hasilnya lebih mencengangkan lagi, yakni Rp31.600.000.000.000.000. Anda tidak salah baca, Rp31.600 triliun.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kandungan emas paling banyak terdapat pada aliran-aliran sungai, khususnya Sungai Tahi Ite dan Sungai Wububangka, dengan jumlah rata-rata 258 ppm (part per million), atau dalam bahasa awam 258 gram emas murni pada tiap 1 ton tanah. Sedangkan di pebukitan hanya mengandung 10 hingga 40 ppm emas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Dari segi kualitas, emas Bombana masih lebih baik dari yang freeport kelola. Kalau tidak salah, emas di sana hanya 10 ppm,” kata Ir Kahar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Emas di aliran sungai terdapat hingga kedalaman 1 sampai 30 meter. Sedangkan di bukit, emas baru bisa diperoleh pada kedalaman 150 meter. Karena itu, pebukitan akan menjadi ‘jatah’ para investor karena memiliki alat penggalian.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Kahar, kandungan emas di Raurau ini sebenarnya sudah diketahui oleh pemerintah sejak Mei lalu atau dua bulan sebelum meledaknya aktivitas pertambangan rakyat. Namun menurut cerita yang berkembang di tengah masyarakat, emas ini ditemukan oleh warga Raurau sendiri. Tetapi banyak versi tentang awal penemuan ladang emas ini.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Versi pertama ini paling banyak diyakini warga Bombana. Alkisah, emas pertama kali ditemukan oleh warga yang bernama Budi. Namun kisah ini diselimuti nuansa mistis. Pasalnya, Budi disebutkan mendapat wangsit dalam mimpi, disuruh mencari emas di desanya yang punya banyak pebukitan tandus itu. Masyarakat setempat pun sempat menganggap Budi tidak waras karena aktivitasnya menggali-gali tanah. Namun seminggu setelah mencari, Budi akhirnya mendapatkan emasnya. Kabar penemuan emas itu pun tersebar seketika.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Versi lainnya. Emas ditemukan oleh seseorang pengangguran bernama Hamzah. Hamzah yang dulunya sempat mendulang di Martapura menemui kesamaan topografi alam Martapura dengan Raurau. Hamzah pun lalu coba-coba mendulang dan akhirnya berhasil memperoleh emas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari hasil mendulangnya secara diam-diam, Hamzah memperoleh emas hingga ratusan gram. Kehidupan Hamzah pun berubah drastis. Perabotnya mewah-mewah. Bahkan sudah membeli mobil. Warga akhirnya curiga Hamzah mendapatkan kekayaannya karena menggunakan ilmu hitam. Karena tak tahan dengan gunjingan warga, Hamzah pun membeberkan penemuan emasnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kisah lainnya, emas ditemukan oleh seorang petani saat akan mencari rotan dalam hutan. Saat menyeberangi Sungai Tahi Ite, petani itu melihat kilauan memancar dari dalam air. Petani itu lalu mencari benda berkilau itu dan ternyata, benda berkilau itu adalah emas. Berita itu pun tersebar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Usai lebaran, saya meninggalkan Bombana menuju Kendari. Di sepanjang jalan, saya masih melihat banyak pendulang pendatang yang berusaha masuk Bombana. Tetapi usaha mereka tampaknya akan sia-sia. Sebab aparat gabungan masih melakukan penjagaan di Gerbang PPA. (*)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/8233332372138135345-3973414569044075630?l=akbarhamdan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/feeds/3973414569044075630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/2008/12/ketika-warga-demam-emas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8233332372138135345/posts/default/3973414569044075630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/8233332372138135345/posts/default/3973414569044075630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akbarhamdan.blogspot.com/2008/12/ketika-warga-demam-emas.html' title='Ketika Warga Demam Emas'/><author><name>Akbar Hamdan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12217593549486232153</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='29' src='http://1.bp.blogspot.com/_VqicMMQnPiI/SUDxGRblFJI/AAAAAAAAAAM/IOvvP1cEboA/S220/akbar.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_VqicMMQnPiI/SUEBWd2SunI/AAAAAAAAAAo/Zbp5Ph9p81Q/s72-c/05-10-FOTO+FICER+EMAS+BOMBANA+%284%29.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
